❤️‍🔥 Hadits Orang Tua Masuk Neraka Karena Anaknya

Kemudiandiperintahkan (Malaikat) agar menyeretnya atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka". (Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim, Sahih) Penyebab ketiga golongan muslin itu masuk neraka ternyata karena amal yang dilandasi Riya'. Kelihatannya sepele, tetapi Riya menyebabkan orang-orang yang berilmu dan punya harta dimasukkan ke Ajaranagama Islam senantiasa disandarkan pada 2 sumber utama yaitu Al Qur'an dan AL Hadits. sedang sumber hukum yang lain (Ijma, Qiyas, masali mursalah dan seterusnya, merupakan sumber hukum yang menjadi pedoman setelah Al Qur'an dan Al Hadis, sumber-sumber tersebut di gunakan apabila tidak ditemukan adanya ketetapan hukum dalam Al-Qur'an dan BWWDE. Pro kontra masalah status kedua orang tua Nabi akhir-akhir ini menjadi buah bibir media sosial. Sebagai seorang muslim, mari kita semua menimbangnya dengan dalil bukan dengan perasaan semata. Mari cermati dua hadits yang merupakan landasan dasar masalah iniDalil pertamaعَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيْنَ أَبِيْ؟ قَالَ فِي النَّارِ. فَلَمَّا قَفَّى دَعَاهُ فَقَالَ إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّارِDari Anas, bahwasanya ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, di manakah tempat ayahku yang telah meninggal sekarang berada?” Beliau menjawab, “Di neraka.” Ketika orang tersebut menyingkir, maka beliau memanggilnya lalu berkata, “Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka” HR. Imam Muslim dalam Shahîh-nya 203.Dalil Keduaعَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ a قَالَ زَارَ النَّبِيُّ n قَبْرَ أُمِّهِ فَبَكَى وَأَبْكَى مَنْ حَوْلَهُ فَقَالَ اسْتَأْذَنْتُ رَبِّي فِيْ أَنْ أَسْتَغْفِرَ لَهَا فَلَمْ يُؤْذَنْ لِيْ وَاسْتَأْذَنْتُهُ فِيْ أَنْ أَزُوْرَ قَبْرَهَا فَأُذِنَ لِيْ فَزُوْرُوْا الْقُبُوْرَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْمَوْتَDari Abu Hurairah berkata, “Nabi pernah menziarahi kubur ibunya, lalu beliau menangis dan membuat orang yang berada di sampingnya juga turut menangis kemudian beliau bersabda, Saya tadi meminta izin kepada Rabbku untuk memohon ampun baginya ibunya tetapi saya tidak diberi izin, dan saya meminta izin kepada-Nya untuk menziarahi kuburnya ibunya kemudian Allah memberiku izin. Berziarahlah karena ziarah kubur dapat mengingatkan kematian.’” HR. Imam Muslim dalam Shahîh-nya 976–977.Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani berkata mengomentari hadits ini“Ketahuilah wahai saudaraku seislam bahwa sebagian manusia sekarang dan sebelumnya juga, mereka tidak siap menerima hadits shahih ini dan tidak mengimani kandungannya yang menegaskan kufurnya kedua orangtua Nabi. Bahkan sebagian kalangan yang dianggap sebagai tokoh Islam mengingkari hadits ini berikut kandungannya yang sangat saya, pengingkaran seperti ini pada hakikatnya juga tertuju kepada Rasulullah yang telah mengabarkan demikian, atau minimal kepada para imam yang meriwayatkan hadits tersebut dan menshahihkannya. Dan ini merupakan pintu kefasikan dan kekufuran yang nyata karena berkonsekuensi meragukan kaum muslimin terhadap agama mereka, sebab tidak ada jalan untuk mengenal dan memahami agama ini kecuali dari jalur Nabi sebagaimana tidak samar bagi setiap mereka sudah tidak mempercayainya hanya karena tidak sesuai dengan perasaan dan hawa nafsu mereka maka ini merupakan pintu yang lebar untuk menolak hadits-hadits shahih dari Nabi. Sebagaimana hal ini terbukti nyata pada kebanyakan penulis yang buku-buku mereka tersebar di tengah kaum muslimin seperti al-Ghazali, al-Huwaidi, Bulaiq, Ibnu Abdil Mannan, dan sejenisnya yang tidak memiliki pedoman dalam menshahihkan dan melemahkan hadits kecuali hawa nafsu mereka ketahuilah wahai saudaraku muslim yang sayang terhadap agamanya bahwa hadits-hadits ini yang mengabarkan tentang keimanan dan kekufuran seseorang adalah termasuk perkara ghoib yang wajib untuk diimani dan diterima dengan bulat. Allah berfirmanالٓمٓ ﴿١﴾ ذَ‌ٰلِكَ ٱلْكِتَـٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًۭى لِّلْمُتَّقِينَ ﴿٢﴾ ٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِٱلْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقْنَـٰهُمْ يُنفِقُونَ ﴿٣﴾“Alif lâm mîm. Kitab al-Qur’an ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, yaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka” QS. al-Baqarah [2] 1–3وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍۢ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ ٱلْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَن يَعْصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَـٰلًۭا مُّبِينًۭا ﴿٣٦﴾“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata” QS. al-Ahzâb [33] 36Maka berpaling darinya dan tidak mengimaninya berkonsekuensi dua hal yang sama-sama pahit rasanya. Pertama Mendustakan Nabi. Kedua Mendustakan para perawi hadits yang tatkala menulis ini, saya tahu betul bahwa sebagian orang yang mengingkari hadits ini atau memalingkan maknanya dengan maka yang batil seperti as-Suyuthi—semoga Allah mengampuninya—adalah karena terbawa oleh sikap berlebih-lebihan dalam mengagungkan dan mencintai Nabi, sehingga mereka tidak terima bila kedua orangtua Nabi seperti yang dikabarkan oleh Nabi, seakan-akan mereka lebih sayang kepada orangtua Nabi daripada Nabi sendiri!!!” Silsilah al-Ahâdits ash-Shahîhah no. 2592Sebenarnya ucapan para ulama salaf tentang aqidah ini banyak sekali. Namun, cukuplah kami nukil di sini ucapan al-Allamah Ali bin Sulthan Ali al-Qari,“Telah bersepakat para ulama salaf dan khalaf dari kalangan sahabat, tabi’in, imam empat, dan seluruh ahli ijtihaj akan hal itu kedua orangtua Nabi di neraka tanpa ada perselisihan orang setelah mereka. Adapun perselisihan orang setelah mereka tidaklah mengubah kesepakatan ulama salaf.” Adillah Mu’taqad Abi Hanifah fi Abawai Rasul, hlm. 84.Kalau ada yang mengatakan bahwa keyakinan/aqidah bahwa kedua orangtua Nabi di neraka termasuk kurang adab terhadap Rasulullah Shallallahu’alaihi jawabBeradab terhadap Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam yang sebenarnya adalah mengikuti perintahnya dan membenarkan haditsnya, sedang kurang adab terhadap Rasulullah adalah apabila menyelisihi petunjuknya dan menentang haditsnya. Allah berfirmanيَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تُقَدِّمُوا۟ بَيْنَ يَدَىِ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌۭ ﴿١﴾“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” QS. al-Hujurât 1Alangkah bagusnya perkataan Syaikh Abdurrahman al-Yamani tatkala mengomentari hadits ini, “Seringkali kecintaan seseorang tak dapat dikendalikan sehingga dia menerjang hujjah serta memeranginya. Padahal orang yang diberi taufik mengetahui bahwa hal itu berlawanan dengan mahabbah cinta yang disyari’atkan. Wallahul Musta’an”.Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini berkata, “Termasuk kegilaan, bila orang yang berpegang teguh dengan hadits-hadits shahih disifati dengan kurang adab. Demi Allah, seandainya hadits tentang Islamnya kedua orangtua Nabi shahih, maka kami adalah orang yang paling berbahagia dengannya. Bagaimana tidak, sedangkan mereka adalah orang yang paling dekat dengan Nabi yang lebih saya cintai daripada diriku ini. Allah menjadi saksi atas apa yang saya ucapkan. Tetapi kita tidaklah membangun suatu ucapan yang tidak ada dalilnya yang shahih. Sayangnya, banyak manusia yang melangkahi dalil shahih dan menerjang hujjah. Wallahul Musta’an” Lihat Majalah at-Tauhîd, Mesir, edisi 3/Rabi’ul Awal 1421 hlm. 37.***Penulis Ust. Abu Ubaidah Yusuf As SidawiArtikel ORANG tua merupakan orang yang memiliki jasa terbesar bagi sang anak. Merekalah yang merawat dan menjaganya dari semenjak lahir ke dunia ini hingga ia tumbuh dewasa. Sebagai seorang anak yang mengerti akan hal itu, tentu akan mencari tahu apa yang harus ia lakukan pada orang tuannya. Lalu, apa sebenarnya hak orang tua pada anaknya? Seorang anak bertanya kepada Rasulullah SAW, “Apakah hak orang tua terhadap anaknya?” Rasulullah menjawab, “Mereka itu adalah surgamu dan nerakamu?” HR. Ibnu Majah. Maksudnya ialah, orang tua dapat menjadi penentu bagi anak, apakah ia akan menjadi anak yang berbudi atau bahkan sebaliknya. Itu semua tergantung dari pendidikan yang diterapkan oleh orang tua. Nah, di sinilah tugas anak untuk mencari tahu. Apakah orang tua kita ingin menjadikan kita sebagai anak yang menjurus pada arah yang baik atau kah sebaliknya. Dengan begitu, bagi anak yang sudah mampu berpikir kritis akan dapat membedakan mana pendidikan yang baik dan tidak. Maka, ketika orang tua memberikan pendidikan yang baik, Anda harus terima dan mencoba untuk mengamalkannya, karena itu telah menjadi kewajiban Anda untuk berbakti pada mereka. Namun, jika orang tua, lebih mendidik pada arah yang bertentangan dengan syariat Islam, maka tidak ada kewajiban bagi Anda untuk mentaatinya. Mengapa? Karena Anda dapat memilih perbuatan yang lebih baik dari itu. Dan Anda bukan termasuk ke dalam golongan anak yang durhaka jika tidak mau mengikuti perintah orang tua yang seperti itu. [] Sumber Anda Bertanya Islam Menjawab/Karya Prof. Dr. M. Mutawalli as-Sya’rawi/Penerbit Gema Insani

hadits orang tua masuk neraka karena anaknya